Bangun

Latar belakangnya berwarna hitam dengan hapusan-hapusan nila, seakan-akan dilukis secara kebetulan, ataukah itu ancang-ancang seorang kaligraf Cina pemula? Lalu ada bunyi. Aku tak bisa menempatkannya. Tapi bunyi itu memperoleh bentuk: siluet gunungkah yang kulihat di kejauhan yang kelam? Langkah-langkah kecil dengan cepat mendekat. Sepertinya dari hewan yang memasuki daerahku. Sebelum aku sempat bersiap-siap, dia meloncat ke atas tempat tidurku. Aku berteriak terperanjat dan bangun. Hewan itu mundur sekejap, dan berubah menjadi sosok bocah laki-laki berumur lima tahun.
Ia berdiri di samping tempat tidurku, memandangku terkejut dan bertanya: ‘Papa, boleh pasang televisi?’
‘Boleh saja, Nak.’
Anakku cepat pulih, kelihatannya sudah melupakan reaksi kagetku ketika pahlawan-pahlawan kartunnya berlarian di layar kaca. Sungguhkah dia sudah lupa?
Kejadian-kejadian yang benar-benar meninggalkan kesan, biasanya membutuhkan reaksi yang diperlambat. Bisa jadi aku pernah melihat ayahku terkejut gara-gara aku, tapi mungkin aku lupa sebab mantan marinir itu dapat menggulingkan diri dari ranjangnya secepat kilat, kemudian melompat bangkit dalam sikap siap tempur seperti kucing. Bagaimana pun juga, kau lebih suka melihat ayahmu siap tempur daripada takut.
Aku terutama ingat yang satu ini: ‘Kamu mau apa.’
Diucapkan dengan nada datar, namun mengancam. Tawa menantang berkilauan dalam mata ayahku. Indo yang disiksa kenangan perang itu tidak melihat anaknya, ia melihat serdadu Jepang atau pejuang kemerdekaan Indonesia di hadapannya. Palu-palu kecil yang berdetak pada lengan-lengan mesin ketik menarik jejak huruf-huruf cetak di dahinya yang berkerut: Siapa kamu, kamu mau apa di kamarku?

Tidak ada pesawat televisi di rumah, waktu itu tahun lima puluhan dan aku seusia anakku sekarang. Ada karpet dari sabut kelapa di gang di depan kamar, yang membuat kakiku sakit. Kakiku perasa, aku tidak terbiasa jalan bertelanjang kaki seperti ayahku, di negeri dari mana ia melarikan diri enam tahun sebelumnya, tidak lama sesudah perang. Ada dapur dengan karpet kuning dan meja formika, di asbak kristal terletak putung-putung rokok dengan cap lipstik ibuku, orang Belanda. Hawanya dingin, apa yang kulakukan di kamar tidur orang tuaku?
Ayahku tidak menghendaki kehadiranku di situ dan mengusirku, menyuruhku menyalakan kembali pemanas batu bara.
Aku lari ke kamar keluarga. Tungku pemanas berdiri di atas kaki-kakinya yang bengkok di depan perapian, yang dikelilingi bingkai dari tegel-tegel kamar mandi berwarna kuning kusam. Aku menarik laci dengan bekas batu bara yang masih menyala keluar dari mahluk mengerikan bermerek Etna, nama gunung berapi di Italia. Dari lemari di gang aku mengangkat karung batu bara ke atas pundakku. Aku mendengar ibuku menggerutu kepada ayahku bahwa tugas-tugas semacam itu bukan untuk anak-anak kecil.
Aku membuka klep tungku dan di kedalaman melihat sisa-sisa batu bara yang bertahan hidup sepanjang malam. Berlian-berlian hitam, diawetkan dalam seringai neraka. Aku merobek-robek koran, membentuk robekannya menjadi bola-bola, melemparkannya ke dalam mulut tungku dan menutupinya dengan potongan-potongan kayu. Sambil menahan beratnya karung, aku menggelindingkan batu bara ke dalam api. Aku memandangi asap hitam yang mengepul, menunggu sampai pemanas mengeluarkan bunyi menderu dan menutup klepnya.
Empat puluh tahun kemudian, dengan satu gerakan sederhana, aku memutar tombol pengatur suhu untuk memasang pemanas sentral di apartemenku. Aku membuat sarapan untuk anakku, menaruhnya di atas meja di samping sofa dan kembali ke tempat tidurku. Mungkin aku masih bisa tidur satu jam lagi, untuk mengawali hari lebih baik. Tanpa perlu kaget, tanpa ingatan kepada ayahku dan hantu-hantu yang mengelilinginya.

Sesudah itu, anakku tidak lagi membangunkan aku dengan cara seperti itu. Bukannya aku melarangnya. Ia sendiri yang menemukan berbagai strategi. Ia mengambil kereta api mainannya yang pertama, terbuat dari kayu, dan menariknya sekeliling apartemen. Salah satu rodanya macet dan mengeluarkan bunyi mencicit. Bunyi yang kukenal dan tidak mengagetkanku. Kali lain ia duduk di sofa dan bersenandung, lagu-lagu yang diajarkan kepadanya di sekolah, menunggu sampai aku menyalakan televisi buat dia. Kadang-kadang aku melihatnya mengintip cepat-cepat dari pintu kamar, diam agar aku tidak kaget.
Pintu kamar tidurku selalu terbuka lebar. Pintu kamar ayahku selalu terbuka separo. Sesudah ia hidup terpisah dari istri dan anak-anaknya, hanya tergantung pada dirinya sendiri, sejak itu ia menaruh dipan di ruang duduk. Kupikir untuk tidur siang Indisnya, tapi kemudian aku curiga ia juga menidurinya pada malam hari.
Dipan di ruang duduk bisa menjadi sahabat untuk orang-orang yang takut. Kamar tidur bisa menjadi musuh, betapa pun kau berusaha menjadikannya nyaman. Kamar tidur, begitu pikirmu, bagaimana pun menyimpan kenangan akan mimpi-mimpimu yang paling buruk. Dipan di kamar duduk dikelilingi kenalan-kenalan hari-harimu: televisi, instalasi radio, buku-buku, ada syal seseorang yang telah mengunjungimu, anakmu telah meninggalkan kereta api mainannya di tengah kamar.
Aku tidak punya ruang duduk seperti itu. Kalau anakku sehabis akhir pekan kembali kepada ibunya, aku mengangkat semua barangnya ke kamarnya. Agar tidak menghapus kenangan akan kehadirannya, aku membiarkan pintu kamar tidurnya terbuka lebar-lebar. Ruang dudukku sekosong mungkin, tidak ada yang boleh menggangguku selagi aku duduk di belakang meja kerjaku. Karpet hijau, kerai hitam, sebuah sel dengan nafas ketegasan Jepang. Melihat dipan aku bisa lumpuh tanpa harapan.
Kamar tidurku memperlihatkan kekosongan yang sama. Aku tidur di kasur Jepang. Ada satu lemari dari kayu lapis putih, selain itu tidak ada apa-apa. Kamarku dipisahkan dari kamar duduk dengan sebuah pintu per. Bila pintu kubiarkan terbuka, dapat dikatakan aku tidur dalam perpanjangan kamar duduk. Tidak ada gunanya, sebab mengapa anakku membuatku begitu terkejut?
Kedatangan anakku untuk menginap, satu hari dalam seminggu, menyelang hidup pertapaanku sebagai penulis. Pada saat kehadirannya mulai merupakan sesuatu yang biasa, ia sudah harus pergi lagi. Pada saat kau mulai berdamai dengan siang, malam tiba.

* * *

Hak cipta © 2001 pada Alfred Birney. Alih bahasa: Widjajanti Dharmowijono. Judul asli: “Wakker worden”. Dimuat dalam kumpulan cerita pendek dan esai karya Alfred Birney: Yournael van Cyberney. Haarlem: In de Knipscheer, 2001