Categorie: Sastra

Tanpa wajah

Satu-satunya kenanganku akan nenekku adalah makamnya. Satu-satunya kenangan ayahku akan neneknya adalah pemakamannya. Aku tidak tahu apa yang diturunkan nenekku kepadaku. Ayahku tidak tahu apa yang diturunkan neneknya kepadanya, tidak bisa lagi menanyakannya ketika aku bertanya.

Mungkin aku mewarisi suasana hati nenekku yang berubah-ubah. Ayahku berkisah bahwa ibunya sering berganti suasana hati. Ia menulis hal itu kepada seseorang dalam surat yang kemudian aku baca tembusannya. Zaman sekarang pergantian suasana hati dinamakan: kepekaan terhadap suasana. Suasana dikenal ada tiga: tertekan, takut, melankolis. Dari ketiga suasana, melankolis mungkin yang paling indah. Rindu kepada kampung halaman tapi lebih sedih. Mungkin nenekku merindukan negeri yang tidak dikenalnya, negeri ibunya: Tiongkok. Kerinduan yang ditularkan kepadanya oleh ibunya, yang berasal dari sana. Atau yang diwarisi dari neneknya, yang mungkin juga tidak dikenalnya.

Ayahku bercerita bahwa neneknya masih mempunyai kaki-kaki kecil yang diikat. Dengan demikian sebagai perempuan Cina ia telah memenuhi gambaran ideal seorang wanita Cina cantik. Nenek buyutku datang ke Hindia Belanda dari Kanton, kemungkinan besar bersama sebagian keluarganya, karena dalam cerita-cerita ayahku bermunculan paman-paman dan bibi-bibi Cina. Kapan ia datang ke Hindia Belanda, aku tidak tahu. Kelihatannya ia lahir sesudah 1860, ketika perbudakan di Hindia Belanda dilarang dan terjadi kekurangan buruh.

Seperti halnya orang Belanda mencari buruh dari negara-negara sekitar Laut Tengah pada tahun enam puluhan abad yang lalu, begitu juga yang mereka lakukan di pantai-pantai Tiongkok seratus tahun sebelumnya. Dan seperti banyak buruh dari Laut Tengah yang bermukim untuk selamanya di Negeri Belanda, begitu juga yang dilakukan para pendatang di Hindia Belanda. Mereka datang dalam perahu-perahu reyot, dan orang menamakannya ‘koelie’. Aku tidak tahu nama nenek buyutku. Mungkin ia memakai Nio dalam namanya: perempuan.

Ayahku berusia kira-kira empat tahun ketika neneknya meninggal. Tubuh neneknya pasti kecil, tapi dalam ingatan cucunya peti matinya besar dan dibuat dari kayu jati dan berat. Di bawah pimpinan ibunya, orang membuat masakan Cina dan mempersembahkannya kepada para dewa. Ayahku, dua kakak laki-laki dan dua kakak perempuan dilumuri kapur di belakang telinga. Garis-garis kapur itu harus melindungi mereka terhadap roh-roh jahat selama upacara pemakaman.

Siapa lagi yang hadir pada upacara itu? Apakah nenek buyutku meninggalkan seorang suami, ataukah lelaki itu sudah meninggal atau mungkin hidup bersama perempuan lain, yang lebih muda?

Peti diangkat ke atas cikar dan diantar ke tempat pemakaman di Soerabaja. Dengan sebuah upacara Cina perempuan dengan kaki-kaki kecil dititipkan pada tanah, bunga-bunga ditabur dan seorang anak laki-laki kecil melihat bagaimana piring-piring dengan makanan persembahan diatur mengelilingi makam. Seleranya timbul, ia lolos dari perhatian para pelayat dan makan dari hidangan lezat di seputar makam neneknya. Mungkin para dewa dalam kebaikan mereka mengizinkan bocah kecil itu berada di antara mereka?

Seandainya mereka hadir, para dewa itu, dan seandainya mereka marah karena seorang anak kecil makan dari hidangan mereka, mungkin di sinilah letak petunjuk untuk nasib getir yang menanti si bocah kelak. Tapi aku tidak percaya itu. Tepatnya: aku hampir tidak percaya. Itu agak lebih banyak ketimbang tidak percaya sama sekali. Karena aku tidak tahu pasti apakah mereka benar-benar ada, para dewa itu, dan apakah mereka hadir pada pemakaman nenek ayahku.

Aku harap mereka hadir. Bahwa merekalah yang menentukan nasib ayahku. Aku berharap begitu karena aku mencari ketidakbersalahan manusia, keluargaku.

Aku mengenal wajah nenek buyutku dari pihak kakekku dari foto-foto. Aku bahkan tahu namanya: Rabina. Menurut ayahku ia orang Madura. Menurut seorang bibiku, yang menulis sejarah keluarga kami, ia orang Jawa Timur, anak Pak Grimin dan Sayeh. Banyak orang Jawa Timur berasal dari Madura. Rabina tinggal di satu tempat di pojok Timur Pulau Jawa, ketika sepuluh tahun sebelum penghapusan perbudakan, seorang pria muda bernama George Birnie meninggalkan Negeri Belanda dengan kapal layar menuju Hindia Belanda. Ia kemudian membuka sebagian tanah Jawa Timur dan menanaminya dengan kopi dan tembakau. Ia menikahi Rabina, suatu hal yang istimewa pada waktu itu, dan Rabina memberinya delapan orang anak: anak-anak Indo. Mereka dikirim ke Negeri Belanda untuk pendidikan mereka. Rabina kemudian juga diajak ke Negeri Belanda oleh George yang memimpin imperium Birnie dari sana. Wanita itu menguasai dapur di rumah keluarga, di lantai bawah tanah. Tuhanlah yang tahu apa yang dirasakannya.

Dalam kronik keluarga ditulis bahwa George meninggal di negeri Belanda, tetapi tidak ada catatan mengenai nasib Rabina. Penulis kronik hanya memetakan imperium Birnie. Jadi aku tahu apa yang dilakukan para pria. Aku tahu bahwa mereka menamami bidang-bidang tanah di Hindia Belanda. Aku juga tahu bahwa nenek buyutku Rabina masak untuk suami dan anak-anaknya dan bicara bahasa Belanda yang salah-salah dan lucu. Selebihnya aku tidak tahu apa-apa. Sekali lagi: bagaimana perasaannya di Negeri Belanda? Asing? Ataukah ia merasa nyaman di mana pun, selama ia bersama suaminya? Aku menduga Rabina kembali ke Hindia Belanda sepeninggal suaminya dan meninggal di sana. Aku harap begitu, sebab, menurut orang-orang Indo tua, tanah di sana lebih hangat.

Anak keempat George dan Rabina bernama Willem dan lahir tahun 1868 di Djember, Jawa Timur. Indo asli ini menikah dengan saudara sepupunya, wanita dari cabang lain keluarga Birnie. Mereka memperoleh dua orang anak. Aku tidak tahu berapa lama mereka menikah. Secara hukum mungkin seumur hidup. Tapi mereka hidup terpisah. Itu terjadi ketika Willem berjumpa dengan nenekku, anak perempuan dari wanita yang mempunyai kaki-kaki kecil. Ia kemudian hidup bersama dengan perempuan itu, ‘samenleven’, menurut istilah ayahku. Orang lain akan mengatakan: ia mengundang perempuan itu tinggal bersamanya, sebagai pengurus rumah tangga. Dan mengambilnya sebagai ‘nyai’, istilah Indis yang menarik untuk seorang gundik.

Menurut ayahku ia lahir tahun 1893 di Kediri, Jawa Timur, dan bernama Sie Swan Nio, dengan nama keluarganya di depan. Tetapi akte pengakuan ayahku sebagai anak dalam 1925 mencantumkan: Sie Swan Nio, tanpa pekerjaan, beralamat di Soerabaia, Koninginnelaan 3, usia menurut pengakuannya tiga puluh dan lima tahun dan tidak kawin. Berarti tahun kelahirannya 1890? Bisa jadi karena alasan tertentu, uang mungkin, ia berbohong kepada notaris mengenai umurnya.

Jika ia lahir tahun 1890 sesuai keterangannya, ia dari tahun Macan. Kalau ia dari tahun 1893, berarti ia dari tahun Ular.

Ada perbedaan besar antara perempuan yang lahir di tahun Macan dan mereka yang lahir di tahun Ular. Wanita Macan lahir sebagai feminis dan karena itu paling tidak disukai di kalangan Cina kuno. Wanita Ular misterius dan sensual. Hari kelahirannya pasti: 23 Juli, batas antara tanda zodiak Cancer dan Leo menurut astrologi barat sekarang. Ayahku pasti mengingat tanggal itu dengan baik, di kemudian hari, ketika ia sendirian di Negeri Belanda, terpisah untuk selamanya dari keluarganya, karena ia harus melarikan diri dari orang Indonesia sesudah perang.

Sie Swan Nio sudah mempunyai anak sebelumnya, putri seorang pria Cina. Aku tidak tahu apakah ia menikah dengan pria itu. Aku hanya tahu bahwa lelaki itu kecanduan judi. Mungkin juga ini hanya karangan ayahku. Ada teori yang mengatakan bahwa sesudah perceraian, orang mencari seseorang yang mirip dengan pasangan hidup yang lalu, atau memiliki sifat-sifatnya yang paling menonjol. Dalam lakinya yang kedua, nenekku menemukan seorang penjudi lagi.

Dia, Willem, putra yang beruntung dalam imperium perkebunan Birnie yang kaya dan termasyhur, menurut ayahku memiliki dua belas bedil berburu yang digantung di tembok. Menurut cerita, orang Indo suka berburu. Mereka berburu celeng, babi hutan. Nenekku pasti sering melihatnya berangkat untuk berburu di hutan. Tapi mungkin hutannya terutama merupakan kumpulan alamat-alamat, dengan teman-teman perempuan, dan merekalah korban buruannya.

Menurut ayahku, Willem memiliki kapal uap, usaha binatu dan praktek pengacara. Sesudah itu aku membaca dalam catatan sejarah keluarga bibiku bahwa kakekku adalah enfant terrible, anak nakal keluarganya, bahwa ia mengarang rencana, supaya dapat meminjam uang dari kas keluarga. Tambang batu bara di Borneo, hal-hal semacam itu. Dalam perjalanan ke Negeri Belanda dan kembali ke Hindia ia selalu mampir di kasino di Monaco.

Sang bon vivant tidak mengikuti jejak ayahnya, George, dan tidak pernah mengakui kelima anak yang dilahirkan Sie Swan Nio. Karena itu nenekku sendiri melaporkan kelahiran ayahku, si bungsu. Menurut aktenya ia menunggu sampai saat terakhir, karena bayinya sudah berumur tiga bulan. Undang-undang di kala itu tidak mengizinkan jangka waktu yang lebih lama untuk pelaporan seorang anak. Mungkin selama itu ia berusaha membujuk lakinya untuk mengakui anaknya, agar setidak-tidaknya anak emasnya, anak kesayangannya, dapat menjadi ahli waris dengan masa depan penuh kesempatan gemilang.

Mungkin nenekku lahir dalam tahun Macan dan ia mempertikaikan pengakuan anak yang terakhir dan sang pemburu selalu mengatakan bahwa ia akan mempertimbangkannya dan selalu saja ia lupa, dengan botol wiski di mulutnya. Dalam kronik keluarga tertulis bahwa kakekku pada akhir hidupnya ditempatkan di bawah pengawasan keluarga. Ia menerima uang saku 600 gulden setiap bulan dan selanjutnya tidak boleh mencampuri urusan bisnis keluarga. Ketika sang penjudi meninggal sebelum Perang Dunia Kedua pecah, ia meninggalkan hutang semata-mata.

Mungkin nenekku lahir dalam tahun Ular dan ia menderita karena ketidakhadiran lakinya. Mungkin ia tidak menerima cukup uang untuk bisa hidup pantas. Aku tidak tahu apakah mereka saling mencintai. Kalau memang kakekku mengambilnya sebagai pengurus rumah tangganya, maka kemudian ia menjadi teman tidurnya. Sebagai teman tidurnya ia dapat mengatakan, atau percaya, bahwa ia bukan lagi seorang pengurus rumah tangga. Bahwa ia adalah istri orang penting, toean besar, seseorang dengan uang, kuasa dan wibawa.

Toean besar tidak mempunyai kuasa untuk menceraikan saudara sepupunya. Istrinya yang pertama ini, yang memberinya dua orang anak resmi, menolak untuk bercerai. Mungkin itu karena saham-saham dalam modal keluarga. Atau mungkinkah nenekku merasa bahwa hatinya selalu tertaut pada saudara sepupunya? Keakraban sejati hanya mungkin ada antara dua orang, begitu bunyi I Ching, Buku Perubahan, warisan lama dari Khonghucu dan murid-muridnya, satu-satunya pasporku ke alam pikiran nenek moyangku yang orang Cina: di mana ada tiga orang, akan ada kecemburuan dan satu di antara mereka harus berlalu.

Ayahku bercerita bahwa ibunya dalam tahun-tahun perang beralih dari kepercayaan Khonghucu ke agama Kristen. Artinya: ia mulai membaca Alkitab, dalam bahasa Melayu. Mungkin ia mencari penghiburan untuk kesedihan yang diakibatkan putranya yang bungsu dengan ide-ide politik pro-Belandanya yang tidak perlu, dan terutama dengan aktivitas perangnya.

Ketika orang Jepang memasuki Hindia Belanda, pada pemboman pertama kota Soerabaja separo rumah rusak. Keluarga ayahku harus mengungsi ke tempat lain di kota. Kakaknya yang sulung, yang ditunjuk sebagai walinya, memperoleh bukti-bukti identitas Tionghoa, sehingga keluarga itu dapat melalui perang dengan tidak terlalu banyak kesulitan. Seluruh keluarga, yang berpikir secara Indonesia, percaya ramalan Jayabaya: bahwa sesudah tiga tahun kekuasaan kuning akan kalah dan bangsa Indonesia akan merdeka. Tetapi anak emas nenekku telah kehilangan ayahnya pada usia yang terlalu muda dan mengidolakan ayahnya, Willem yang ‘asli Eropa’ dengan paspor Belandanya. Sudah tiga tahun ayahnya meninggal, ia sendiri berumur 17 tahun dan ia bukan orang Tionghoa bukan orang Indo bukan orang Belanda. Ia dipenuhi kebencian terhadap orang Jepang dan masih lama memendam duka atas kehilangan dua belas jambangan Cina besar pada waktu pemboman.

Apa lagi yang dilakukan nenekku di masa perang kecuali membaca Alkitab? Ia memperoleh penghasilan dengan membuat kecap di halaman belakang rumah. Semasa pendudukan Jepang putri kembarnya bekerja sebagai pelayan di suatu tempat yang juga didatangi perwira-perwira Jepang. Mereka membawa pulang uang dan ketika ayahku memprotesnya, ibunya berkata: ‘Diam kau. Kita harus makan.’ Ketika ayahku sebagai pemuda berusia dua puluh tahun pulang dengan gajinya sebagai serdadu dan mau memberinya kepada ibunya, ia berkata: ‘Aku tidak mau menerimanya. Ada darah melekat pada uang itu.’

Aku mendengar cerita itu berpuluh-puluh kali dari ibuku, seorang sahabat pena Belanda ayahku, yang diperkenalkan kepadanya oleh seorang serdadu Belanda dari Selatan Negeri Belanda.

Orang Jepang menyerah dan tentara Belanda berusaha menguasai Hindia kembali dengan apa yang mereka namakan Aksi Polisionil. Orang Indonesia tidak mau dikuasai lagi, mereka mengangkat senjata dan kekacauan terjadi di Hindia, yang kemudian menjadi Indonesia. Ayahku memilih pihak Belanda – bukankah almarhum ayahnya yang tidak mau mengakuinya juga orang Belanda – dan ikut Aksi Polisionil Pertama. Ia menghantam ranjau darat dan harus tinggal di tangsi pada Aksi Polisionil Kedua.

Aku tahu itu semua dari memoarnya, yang pernah ditulisnya atas permintaanku. Satu hari ia pulang cuti. Menurut ceritanya ia sedang memakai seragamnya dan membawa senapan. Aku tidak tahu apakah itu bisa, sebab bila seorang tentara cuti, ia harus meninggalkan senjatanya di tangsi. Ia mendengar seorang bayi menangis, menengok di kamar belakang dan melihat anak kecil dengan raut muka Jepang. Ia mengangkat senapannya, mengisinya dengan peluru dan membidikkannya ke sang bocah. Para pembantu berteriak-teriak dan mohon ampun. Ia pergi, sangat terhina karena kakak perempuannya telah melahirkan anak dari seorang perwira Jepang, seorang musuh.

Ke mana ia pergi, di mana ia biasanya berada? Di tangsi? Menurut memoarnya ia sering keluyuran di kota, di mana kelompok-kelompok kecil mulai saling menyerang. Ia tidak menulis bahwa dan bagaimana dalam masa yang kacau itu pacar kakaknya, seorang perwira Jepang, dibunuh pada suatu malam di kota.

Kelak di Negeri Belanda, ketika kami duduk mengelilingi pemanas batu bara dan mendengarkan kisah-kisah perangnya yang setiap malam diceritakannya, ia menyebut kakaknya Lea seorang kolaborator, perempuan penghibur, pelacur Jepang. Sebagai anak kecil sia-sia aku mencoba memahami apa yang dimaksudnya. Dan bertahun-tahun kemudian aku mulai bertukar surat dengan dia, Tante Lea. Aku menjadi salah satu dari Indo Generasi Kedua yang membuat perjalanan mencari akar diriku ke Indonesia. Di samping itu seorang penulis harus mempunyai kerangka untuk cerita-ceritanya, sebanyak mungkin suara mengenai hal yang sama, dari sudut pandang yang berbeda-beda.

Selama lima minggu aku tinggal di rumah Tante Lea, yang paling dekat dengan nenekku karena ia merawatnya praktis sampai akhir hidupnya. Sekarang ia tinggal dalam rumah baru di sebuah jalan di daerah dekat Stasiun Gubeng di Surabaya. Tante Lea tinggal di situ dengan putrinya yang setengah Jepang, yang dinamakannya Josta, mirip nama ayahnya, perwira Jepang Josida.

Josta mempunya tiga orang anak dari pria Cina, seorang pemborong bangunan yang bekerja keras yang datang beberapa kali dalam seminggu dan kadang-kadang menginap. Istrinya yang pertama tinggal di tempat lain di kota. Sama seperti nenek kami, Josta juga seorang gundik, wanita piaraan, meski dalam semacam varian Cina-Buddha.

Anak laki-laki Josta, Joshi, mempunyai satu angan-angan: mengunjungi Jepang, negara kakeknya yang tidak dikenalnya. Wanita cantik idealnya adalah wanita Jepang. Sebuah kalender dengan model-model Jepang tergantung di atas tempat tidurnya. Anak perempuan Josta, Linda, suka hal-hal yang Cina dan pacarnya seorang pemuda Tionghoa. Setiap malam sepulang dari pekerjaannya ia ramai bercerita mengenai apa yang dialami, yang akan dikerjakan, yang disukai dan yang tidak disukainya. Orang mengatakan ia mirip nenekku, Sie Swan Nio. Tapi Linda banyak ketawa, dan ayahku mengatakan bahwa ibunya jarang tertawa. Putri bungsu saudaraku Josta bernama Ervina.

Kalau ketiga nama disimak dalam urutan usianya, bedanya tampak: Joshi, Linda, Ervina. Yang pertama membawa jejak-jejak kakeknya yang tidak dikenalnya dalam namanya. Yang kedua nama yang bagus untuk seorang gadis Tionghoa modern. Yang ketiga bunyinya Indonesia.

Aku tidak merasa nyaman di jalan-jalan di Indonesia. Tapi aku senang di teras depan rumah bibiku. Mungkin karena serambi depan mengingatkan aku pada cerita-cerita ayahku mengenai Hindia Belanda. Aku duduk di situ sepanjang malam dan berjam-jam melihat cecak-cecak di dinding. Kadal tembok ini di tahun enam puluhan selalu tergantung dalam bahan kuningan di dinding rumah orang Indo di Belanda, sekarang mungkin masih begitu di rumah orang-orang Indo tua.

Tante Lea sering berada di dapur, di mana ia setiap hari mendengarkan wayang di radio dan mengerjakan tugas-tugas rumah tangga ringan. Malam hari ia mengunjungi aku di teras depan, berdiri di belakangku dan selalu menyapaku dengan pijatan tangannya pada bahuku, leherku, yang kaku Belanda, dalam penantian tegang akan cerita-ceritanya.

Aku harus menunggu berhari-berhari, berminggu-minggu, cerita mengenai Josida, perwira Jepang, yang begitu dibenci oleh ayahku. Cerita itu sampai kepadaku dalam dua versi. Pertama-tama dalam versi saudaraku Josta, kemudian dalam versi bibiku Lea.

Josta berkisah, sambil mengepel lantai, bagaimana ayahnya yang tak dikenalnya pada suatu malam membeli rokok. Jepang telah menyerah dan serdadu-serdadu Jepang menunggu pemulangan ke negeri mereka. Waktu itu masa ‘Bersiap’: beberapa orang Jepang bertempur, bersama-sama dengan orang Indonesia melawan Belanda, yang lainnya bersembunyi di gudang-gudang pelabuhan atau di rumah-rumah yang pernah mereka sita ketika menduduki Hindia Belanda. Ada juga yang bersembunyi di rumah pacarnya, seperti Josida.

Kebanyakan orang Indonesia tidak mengganggu orang Jepang, tapi ada juga desperado berkeliaran, orang nekat, termasuk orang Indo yang masih ingin menyelesaikan urusan dengan bekas musuh mereka. Ya, seperti ayahku. Orang Jepang yang malam hari masih berkeliaran di jalan sendirian benar-benar tolol. Karena itu Josida tidak pergi sendirian, tapi ditemani saudaranya, juga seorang perwira. Tante Lea menantinya, tapi tidak melihatnya kembali. Ia pergi mencari dan mendengar bahwa ada orang yang kedapatan mati di pasar. Wajahnya rusak, pada waktu identifikasi dia hampir tidak bisa dikenali kembali. Dia saudara Josida.

Dan Josida sendiri?

Ja, lari tentunya. Dia tidak berani kembali, toh. Mama masih mencoba mencarinya, sampai jauh sesudah perang. Sampai di Tokio, kamu tahu jauhnya seperti apa, lewat perantaraan orang-orang lain. Tapi ia tidak pernah lagi mendengar kabarnya. Kasian ibuku, ya.

Berhari-hari kemudian, di serambi depan, sebelum aku pulang ke Belanda, bibiku Lea menemaniku duduk. Ia tidak menyapaku dengan jari-jarinya yang memijat, ia ingin bercerita sesuatu. Tanpa berkata-kata ia memandang ke depan, ke jalan yang gelap dan sepi. Ia meletakkan tangan-tangannya yang tua di pangkuannya, dan ia bercerita bahwa pada suatu malam Josida pergi membeli rokok. Di luar berbahaya, jadi ia ditemani saudaranya. Itu terakhir kali ia melihat Josida yang dikasihinya, karena mereka tidak kembali. Berdua mereka mati di pasar, wajah mereka dirusak dengan senjata tajam.

Berdua?

Ya, berdua. Sesudah Josida bibimu tidak pernah mempunyai laki lain. Tapi aku punya Josta, dan Josida terus hidup di dalamnya, jadi ia selalu berada di dekatku. Linda mirip omamu, kamu tahu ia ingin pergi ke Cina. Dan Joshi, dia rupanya mirip sekali dengan kakeknya, karena itu ia memimpikan gadis Jepang dan negeri Jepang.

Tapi Josta mengatakan hanya saudaranya Josida yang ditemukan mati.

Ya, aku tidak menceritakan semuanya padanya. Kasian toh dia. Tapi sekarang dia tidur, jadi aku sekarang bisa cerita padamu. Kau bisa punya suami yang tidak selalu di rumah, atau kekasih yang meninggalkanmu. Tapi siapa yang mau punya ayah tanpa wajah.

* * *
Alih bahasa: Widjajanti Dharmowijono. Hak cipta © 2001 pada Alfred Birney. Terjemahan di atas dimuat di majalah mingguan Femina no. 33, 16-22 Agustus 2001, Jakarta