Mimpi

Malam hari itu kelinci-kelinci tidur di pasir pantai, aku melihat satu ekor berjaga-jaga, lalu kau ada di hutan tropis dan aku harus mencarimu. Tidak ada yang harus kutakuti, bukankah hanya sebuah permainan. Aku tersesat, mencari dan menemukan kau di padang terbuka. Keadaan jadi sungguh-sungguh. Kau mau berkelahi dan aku takut lagi kepadamu. Kau menertawakan aku karena aku tak terlatih, kau mencemoohku dan kau berdiri di sana, kau muda dan tampan lagi, matamu yang coklat berkilauan aneh dalam warna nila dan merah dan mulutmu miring begitu mengejek. Aku jatuh di tanah, di bumi yang hangat, aku berteriak, jeritanku mengisi kamar tidur, temanku dia tidak bangun, aku duduk dalam baju kimonoku di kamar bawah, gemetar di meja kerjaku, dan kelinci-kelinci dari pantai duduk tanpa peduli di sampul CD dengan judul Multiplication.

Gitar Eric Gale membisu dan jiwamu mengisi ruangan. Baumu asap cerutu, permen mentol dan bumbu-bumbu Indis. Kapan kau mati dibunuh, kau sudah cukup lama menyiksaku, seperti korban-korbanmu menyiksamu dari akhirat. Satu saat kau akan melihat mereka bermunculan di depan matamu yang sekarat. Kau bilang ada banyak, ratusan, yang kau kejar dengan pisau, bayonet, pistol, senapan, granat tangan, bensin, sumbu dan korek api menemui ajal mereka.

Ataukah hanya ada satu, hanya pernah ada satu orang yang mati karena kesalahanmu: seorang teman sekolah mungkin, yang berada di kubu musuh karena dia tidak mau berjuang demi orang Belanda yang kau anggap saudara dari seorang ayah yang tidak pernah mau mengakuimu? Mungkin kau masih ingat hari itu, jam itu, saat kau rasakan pisaumu tenggalam dalam tubuhnya dan dia berbaring di atasmu dan kau merasa mau muntah karena dia tidak mau melepasmu. Kau berhasil lolos, lari dari dia, tapi setahun sesudahnya pada hari yang naas itu kau melihatnya berdiri di ujung kaki tempat tidurmu dan dia membagi diri seperti kecoak. Satu tahun kemudian dua sosok kembali dan membagi diri mereka menjadi empat. Tahun berikutnya mereka berempat kembali dan membagi diri mereka menjadi delapan. Dalam perkalian yang tidak dapat dibendung, satu pasukan mendiami kerajaan maut yang menunggu engkau, pendirinya, sehingga mereka bisa menyanyi:

Soerabaja Papa, selamat datang di rumah, selamat datang di tengah kami.

Kami sekarang begitu banyak dan masih saja takut kepadamu. Katakanlah apa salah kami, sehingga anda dapat berdoa bagi kami, seperti kami juga berdoa untuk anda, ketika sesudah perang anda putus asa mencari jalan dalam rimba batu bata di Negara Belanda yang jauh, di mana pintu yang tertutup tidak bisa dibuka dengan tendangan karena ada kuasa yang tidak dapat dimengerti, yang selalu mencegahnya, sesuatu yang lebih kuat daripada ilmu gaib orang terpandai dari masa muda kami di Hindia, Sang Dukun yang baru mau mati ketika ia tahu pasti bahwa orang Belanda akhirnya meninggalkannya untuk selama-lamanya.

* * *

Judul Asli: Vanwege een oorlogserfenis (Multiplication). Haagsche Courant, vrijdag 21 februari 2003. Hak cipta © 2003 pada Alfred Birney. Alih bahasa: Widjajanti Dharmowijono