Salju

Soerabaja Papa telah membeli kereta luncur bekas buat kami, tapi dia tidak ikut ke luar, dia kedinginan, dia berasal dari negeri panas di mana tidak pernah hujan salju. Aku berbagi kereta luncurnya dengan adik kembarku, kami harus berbagi segalanya, sampai dengan susu yang kami terima di sekolah setiap hari. Kami bergantian saling menarik, bertengkar mengenai gilirannya siapa sekarang, memandang jalan yang makin ke ujung makin putih, pasti ada salju yang banyaknya luar biasa di sana, selewatnya deretan panjang rumah-rumah suram, di taman Zuiderpark dan di belakangnya, di mana dunia nyata mulai, kota orang besar. Mereka memakai topi abu-abu dan jas abu-abu, kadang-kadang orang lewat yang tersesat mendekatkan kepalanya kepada kami dan kami mendengar: ‘Bilang saja kepada ibumu, kamu harus mencuci matamu lebih bersih.’Kami menggosok mata. Kami memandang orang itu sampai lama dari belakang dan kemudian menyampaikan pesannya kepada Mama Hellemond.
‘Ah, orang itu gila.’
Kalau kami harus percaya dia, banyak orang gila berkeliaran. Dengan topi abu-abu, jas panjang abu-abu, sepatu hitam dengan kaos kaki abu-abu, jenis orang yang memenuhi gereja pada hari Minggu.
Kami terlalu kecil untuk memahami lelucon picik seorang Den Haag asli dan tanggapan kesal Mama Hellemond. Dan kami sama sekali tidak melihat bahwa Mama Hellemond kami yang pirang cenderung bersikap seakan-akan kami bukan anak-anaknya sendiri, tapi milik seorang kenalan yang sedang sakit.
Masih bisa lebih parah lagi. Salju yang menipis dan berubah menjadi salju yang siap ditiup angin.
Kereta kami lagi-lagi dengan suara berderus mogok di trotoar abu-abu. Dunia memberontak, menjemukan dan dingin. Kami saling membelakangi duduk di kayu kereta dan setuju menunggu sampai salju turun lagi. Menunggu salju di Holland, anak-anak tolol, Natal selalu mengecewakan.
Kami tidak pernah berhasil melewati seluruh lintasan penuh persimpangan jalan yang berbahaya sampai ke ujungnya, di mana dunia nyata mulai. Salju yang sesungguhnya selalu ada di sana, di mana kau tidak perlu turun dari keretamu untuk menghindari tangga-tangga rumah yang abu-abu itu, di mana kau bisa tetap meluncur, terus dan terus dan terus. Dan di musim panas, matahari di sana selalu bersinar di balik awan. Bagaimana rasanya, tiba di tempat itu dan tidak pernah kembali lagi?
Suatu hari kami menarik kereta kami yang berderit merindukan saldu, menuruni jalan. Kami berjalan begitu jauh sampai tidak bisa melihat rumah kami lagi. Seorang laki-laki dengan topi abu-abu bertanya, kami mau ke mana, dan kami lalu mengatakan kami tersesat. Orang laki-laki itu mengantar kami, jauh kembali ke rumah serambi kecil, tempat belangsungnya perang, biasanya pada malam hari.
Suara-suara menyeramkan di kamar tidur orang tua kami, atau permainan bayangan Soerabaja Papa dan pisau belatinya di tembok kamar tidur kami, sementara dia bergumul dengan orang yang tidak kelihatan.
‘Dia melihat hantu, ayahmu itu,’ kata Mama Hellemond pagi sesudah malam berlalu, dengan teriakan dan caci maki dalam kegelapan, yang tiba-tiba bisa berubah menjadi sunyi senyap dan kau bisa mendengar Soerabaja Papa berjalan mengendap-mengendap di atas karpet sabut kelapa di depan kamar dan memutar semua sakelar lampu, sehingga dia bisa mencari para pelopor, yang jauh-jauh datang dari Indonesia untuk membunuh dia dan kami, seluruh keluarganya.
‘Kita seharusnya mengatakan bahwa kita tidak punya rumah, kepada orang yang memakai topi abu-abu itu.’
‘Ya.’
‘Mungkin orang dengan topi abu-abu itu lalu membawa kita ke ujung jalan.’
‘Ya, dan ia akan menarik kita dengan tali di atas salju, karena semua salju ada di kejauhan.’
‘Ya, dan di salju kita tidak melihat tapak kaki lain di belakang kita. Hanya tapak kaki orang dengan topi abu-abu, di antara jejak-jejak kereta kita.’
‘Seperti apa rumah-rumah di sana, di ujung jalan?’
‘Mungkin rumah di mana dia tidak akan pernah bisa menemukan kita.’
‘Tidak pernah?’
‘Ya, tidak pernah.’
‘Lalu Mama? Dan yang lain-lainnya?’
Kami bisa berlama-lama merenungkan pertanyaan itu. Pertanyaan yang memenjarakan kami. Di saat kami tetap menunggu di atas kereta, mungkin kami tidak mengharapkan salju. Tapi mengharapkan seseorang yang akan mengajak kami. Bukan ke ujung jalan, tapi pergi dari sini, untuk selamanya, dan tidak pernah kembali.

* * *

Hak cipta © 2001 pada Alfred Birney. Judul asli: “Sneeuw”. Dimuat dalam koran Haagsche Courant. January 17, 2003. Suara Merdeka, Indonesia, 21 November 2004. Alih bahasa: Widjajanti Dharmowijono. Reproduksi dalam bentuk apa pun dilarang kecuali dengan izin tertulis dari pengarang.