Sosok Tak Berwajah

Satu-satunya kenangan yang mengingatkan aku pada nenekku adalah makamnya, sedangkan satu-satunya yang dapat diingat ayah tetang neneknya adalah saat neneknya itu dimakamkan. Aku tak tahu sifat apa yang diwariskan nenekku padaku. Ayah juga tak tahu sifat apa yang diwariskan neneknya padanya. Kata ayah sewaktu hal itu kutanyakan padanya, ia tak keburu menanyakannya pada neneknya.

Mungkin aku mewarisi sifat nenekku yang meletup-letup. Kata ayah, ibunya itu punya sifat angin-anginan. Ini pernah diceritakannya dalam sebuah surat yang ditulisnya pada seseorang. Tembusan surat itu kubaca di kemudian hari. Istilah meletup-letup sekarang ini digambarkan sebagai: kepekaan suasana hati, se-dangkan suasana hati terbagi lagi dalam depresi, rasa takut, melankoli. Bila keti-ganya dibanding-bandingkan maka sepertinya melankoli adalah suasana hati yang paling mendingan, kerinduan yang membuat hati pilu. Mungkin nenek bersifat seperti itu karena ia merindukan tanah air yang tak pernah dikenalnya, tanah leluhur ibunya: negeri Cina. Nenek mewarisi kerinduan ibunya. Atau barangkali nenek mewarisi rasa rindu neneknya, yang barangkali juga tak dike-nalnya.

Kata ayah, neneknya mengenakan sepatu wanita Cina yang membuat kaki mereka tetap kecil. Sebagai wanita Cina ia telah memenuhi persyaratan kecantikan wanita Cina kuno. Kemungkinan moyangku melakukan perjalanan dari Kanton ke Hindia Belanda bersama dengan sanak keluarganya, karena dalam cerita-cerita ayah seringkali disebut-sebut nama-nama paman dan bibi yang berasal dari negeri Cina. Aku tak tahu kapan nenek sampai di Hindia Belanda. Ke-mungkinan, nenek dilahirkan setelah tahun 1860 sewaktu sistem perbudakan di Hindia Belanda dihapuskan dan Hindia Belanda kekurangan tenaga pekerja.

Pada tahun enam puluhan abad yang lalu orang Belanda mencari tenaga buruh di sekitar Laut Tengah, hal yang sama juga mereka lakukan 100 tahun se-belumnya di sekitar pantai Cina. Seperti banyak buruh pekerja yang pada akhir-nya menetap di Belanda, hal yang sama juga mereka lakukan di Hindia Belanda. Buruh pekerja yang biasa disebut kuli ini menumpang perahu-perahu yang ringkih. Siapa nama moyangku aku tidak tahu. Mungkin di antara ketiga nama Cinanya terkandung kata Nio yang artinya gadis.

Ayahku berusia empat tahun sewaktu neneknya meninggal. Kemungkinan ne-neknya berperawakan kecil, tapi dalam ingatan ayah peti mati neneknya besar sekali dan terbuat dari kayu jati sehingga sangat berat untuk dipanggul. Ibunya menyiapkan hidangan Cina sebagai sesajen bagi para dewa. Untuk upacara itu daun telinga ayah, dua adik laki-laki, dan dua adik perempuannya diolesi kapur. Ini dilakukan untuk melindungi mereka dari pengaruh roh-roh jahat yang gen-tayangan pada upacara penguburan.

Siapa saja yang hadir pada upacara penguburan itu? Apakah moyangku mening-galkan seorang suami, atau sudah meninggalkah suaminya, atau apakah semen-tara itu suaminya sudah kumpul kebo dengan perempuan lain yang lebih muda?

Kemudian peti jenazahnya dinaikkan ke atas kereta pedati. Iring-iringan meng-arah ke pemakaman Cina di Surabaya. Dengan upacara Cina, jasad perempuan berkaki kecil itu diturunkan ke tanah. Bunga-bungaan pun ditaburkan. Ayah yang pada waktu itu masih kecil tergiur melihat sesajen di piring-piring besar yang disajikan orang-orang. Tak seorang pelayat pun memperhatikan tingkah laku ayah yang saat itu asyik menikmati sajian yang lezat yang dihidangkan di sekeliling liang kubur. Maukah para dewa berbaik hati membiarkan anak kecil itu sebentar di tengah-tengah mereka?

Andai para dewa itu benar-benar ada, dan andai mereka menjadi murka karena anak kecil itu menikmati sesajen yang sebenarnya diperuntukkan bagi mereka, para dewa, maka mungkin ini adalah pertanda bahwa nasib sial bakal menimpa anak kecil itu kelak. Aku sendiri tidak percaya itu bakal terjadi. Atau sebenar-nya: aku tidak begitu percaya. Ini artinya: setengah percaya dan bukannya tidak percaya sama sekali. Karena kita tidak tahu dengan pasti apakah dewa-dewa itu benar-benar ada dan hadir pada upacara penguburan nenek ayah.

Namun aku berharap dewa-dewa itu benar-benar ada. Bahwa para dewalah yang menentukan suratan tangan ayah. Aku mengharapkan hal ini karena aku mencari sisi baik manusia, sisi baik keluargaku.

Wajah nenek buyut dari pihak kakekku hanya kudapatkan lewat foto. Namanya Rabina. Kata ayah ia orang Madura. Menurut bibi yang menulis silsilah keluar-ga, Rabina berasal dari Jawa Timur, anak perempuan Pak Grimin dan Sayeh. Banyak orang Jawa Timur berasal dari Madura. Rabina mungkin tinggal di u-jung Pulau Jawa, sewaktu satu <i<decennia sebelum sistem perbudakan dihapuskan, seorang laki-laki bernama George Birnie berlayar dari Holland menuju Hindia Belanda. Dia kelak akan menghijaukan sebagian Jawa Timur dengan menanam kopi dan tembakau. Menikahi wanita pribumi seperti Rabina adalah hal yang tidak biasa dilakukan pada masa itu. Rabina mengaruniai suaminya itu dengan delapan orang anak: anak-anak Indo. Untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran, anak-anak itu dikirim ke Belanda dan kemudian Rabina juga di-boyong George ke Belanda. Di sana George memimpin perusahaan Birnie. Istrinya bekerja di dapur yang terletak di lantai bawah. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana perasaan Rabina di tempat itu.

Dalam silsilah keluarga ditulis bahwa George meninggal di Belanda, tetapi bagaimana nasib Rabina kemudian sama sekali tidak digubris. Penulisnya hanya menulis tentang riwayat keluarga Birnie. Dari tulisan-tulisan itu aku bisa menge-tahui apa yang dilakukan kaum laki-laki keluarga Birnie. Mereka bercocok tanam di Hindia Belanda. Aku juga tahu bahwa moyangku Rabina memasak untuk suami dan anak-anaknya dan sangat tidak fasih berbahasa Belanda se-hingga lucu kedengarannya. Hanya itu yang kuketahui. Pertanyaanku lagi-lagi adalah: bagaimana perasaan Rabina di Belanda? Apakah ia seperti tercabut dari akarnya? Atau apakah ia bisa merasa kerasan di mana pun di dunia, asal berada di dekat suaminya. Aku rasa setelah suaminya meninggal, Rabina kembali ke Hindia Belanda dan meninggal di sana. Aku berharap itu yang terjadi karena, kata orang-orang Indo yang sudah tua, tanah di Hindia Belanda lebih hangat.

Anak keempat George dan Rabina bernama Willem. Ia lahir tahun 1868 di Jember, Jawa Timur. Indo tulen ini mula-mula menikah dengan keponakannya, seorang wanita yang juga berasal dari silsilah Birnie. Mereka dikaruniai dua orang anak. Berapa lama perkawinan ini bertahan tak kuketahui. Secara hukum mungkin seumur hidup mereka. Tetapi dalam kenyataannya, mereka hidup terpisah. Perpisahan itu terjadi sewaktu Willem bertemu nenekku, salah seorang gadis dari dua bersaudara anak seorang perempuan Cina berkaki kecil. Willem kumpul kebo dengan wanita itu, itu kata ayah. Tapi kata orang-orang lain, Willem mengambil wanita itu sebagai pengurus rumah tangganya, dan sebagai miliknya, sebagai nyai.

Kata ayah, wanita itu lahir di Kediri, Jawa Timur tahun 1893 dan diberi nama Sie Swan Nio. Nama Sie adalah nama keluarga yang ditempatkan di depan. Ta-pi dalam akte kelahiran ayah tahun 1925 tertulis: Sie Swan Nio, ibu rumah tangga, berdomisili di Surabaya, Koninginnelaan 3, menurut pengakuan berumur 35 tahun, tidak menikah. Apakah Sie Swa Nio dilahirkan tahun 1890? Ini mungkin saja terjadi dengan alasan tertentu, barangkali karena uang ia terpaksa berbohong pada no-taris mengenai berapa umur sebenarnya.

Bila ia kelahiran tahun 1890 seperti dalam pernyataannya dalam akte itu, maka ia adalah wanita bershio macan. Tapi bila ia kelahiran 1893, maka ia bershio ular.

Perbedaan wanita bershio macan dan ular sangat besar. Wanita bershio macan bersifat feminis, jadi mereka kurang disukai oleh orang-orang tua Cina. Wanita bershio ular bersifat misterius dan sensual. Yang jelas tanggal kelahiran Nio adalah 23 Juli, terletak di batas antara zodiak Cancer dan Leo. Ayah pasti tidak pernah melupakan ulang tahun ibunya, sewaktu ia hidup sendirian di Belanda, terpisah dari sanak keluarga, karena harus mengungsi menghindari para pejuang Indonesia setelah perang.

Sie Swan Nio sebelumnya sudah punya anak perempuan dari hubungannya dengan seorang laki-laki Cina. Aku tak tahu apakah ada ikatan perkawinan di antara mereka. Yang jelas, laki-laki itu suka main judi. Tapi bisa juga ini hanya merupakan alasan ayah saja. Ada satu teori yang mengatakan bahwa biasanya setelah bercerai, seseorang mencari teman hidup yang mirip dengan partner se-belumnya, atau setidak-tidaknya punya kesamaan yang khas. Nenekku mene-mukan sifat yang sama pada suami keduanya ini, sama-sama suka judi.

Willem, keturunan Birnie, pemilik perkebunan yang kaya dan terkenal. Ia menghiasi temboknya dengan dua belas senjata berburu. Kata orang, orang Indo suka berburu. Biasanya mereka berburu babi hutan. Nenek pasti sering melihatnya pergi ke jungle. Tapi barangkali jungle yang dimaksud adalah sekumpulan alamat rumah tempat simpanan-simpanan gelapnya tinggal.

Kata ayah, Willem memiliki kapal uap, binatu, dan kantor pengacara. Di kemudian hari aku membaca dalam silsilah keluarga tulisan tanteku bahwa laki-laki itu adalah pencemar nama keluarga, yang suka membual memiliki perusahaan-perusahaan supaya bisa meminjam uang dari kas keluarga. Ia juga membual tentang sebuah tambang batu bara di Kalimantan, ya cerita-cerita se-perti itulah. Dalam perjalanan menuju ke Belanda dan kembali lagi ke Hindia Belanda, dia selalu mampir di kasino di Monaco.

Peminat kehidupan ini tidak mengikuti jejak ayahnya, George, dan tidak pernah mengakui kelima anaknya yang dilahirkan oleh Sie Swan Nio. Nio sendirilah yang melaporkan kelahiran ayahku, anak bungsunya yang jauh beda usianya dari kakak-kakaknya. Menurut akte tersebut waktu melapor Nio masih menunggu sampai batas akhir, karena waktu itu bayinya sudah berusai tiga bulan. Pada ma-sa itu hukum tidak mengakui laporan yang melewati batas waktu lebih dari itu. Kemungkinan selang waktu itu digunakan Nio untuk membujuk suaminya itu untuk mengakui putranya, supaya paling tidak anak emasnya, anak kesayangannya itu, bisa jadi pewaris dengan masa depan yang cerah.

Kemungkinan nenek bershio macan dan temperamen yang dimilikinya itu mem-buat ia sering bertengkar dengan suaminya supaya mengakui anak terkecil mereka, dan ‘sang pemburu’ terus saja mengatakan akan mempertimbangkannya dan selalu saja melupakan janjinya ini karena pengaruh whisky. Dalam silsilah keluarga ditulis bahwa kakekku pada akhir hayatnya berada di bawah pengawasan keluarga. Ia mendapat uang saku sebanyak enam ratus gulden sebulan dan tidak diperkenankan lagi mencampuri urusan keluarga. Sewaktu penjudi ini meninggal tak lama sebelum Perang Dunia Kedua, ia hanya meninggalkan sejumlah hutang saja.

Barangkali nenek bershio ular dan ia sangat menderita karena sering ditinggal suaminya. Mungkin nenek tidak mendapatkan cukup uang untuk hidup dengan layak. Aku tak tahu apakah ada rasa cinta di antara keduanya. Bila kakek dulu mengambilnya sebagai pengurus rumah tangga, maka lama-lama ia menjadi wanita piaraannya. Sebagai wanita piaraan, kita bisa menduga atau percaya bahwa ia tidak lagi berstatus sebagai pembantu, tapi sudah jadi wanita milik tuan besar, seseorang yang memiliki uang, kekuasaan, dan terpandang.

Tetapi sang tuan besar tak berdaya menceraikan istrinya yang juga adalah keponakannya. Istri pertamanya ini, yang memberinya tiga orang anak yang sah menolak cerai dan ini mungkin disebabkan oleh saham-saham yang ada dalam kekayaan keluarga. Atau barangkali juga nenekku merasa bahwa cinta suaminya tetap melekat pada keponakannya. Menurut I Ching, sebuah buku yang merupakan warisan kuno Konghucu dan murid-muridnya, satu-satunya buku pe-ganganku untuk memahami cara berpikir nenek moyangku yang berkebangsaan Cina: keintiman sejati hanya mungkin melibatkan dua orang karena orang ketiga hanya akan membawa rasa cemburu. Jadi salah satu harus mengalah.

Menurut cerita ayah, sewaktu masa-masa perang ibunya pindah kepercayaan, dari Ajaran Konghucu ke Agama Kristen. Ia mulai membaca Alkitab dalam ba-hasa Melayu. Mungkin nenek mencari penghiburan untuk melupakan kesedihan yang diakibatkan oleh anak bungsunya karena ide-ide anaknya yang pro Belan-da dan tindakan-tindakannya selama perang.

Sewaktu Jepang menduduki Hindia Belanda, ketika pemboman pertama di Su-rabaya, separuh rumah mereka hancur menjadi puing. Mereka sekeluarga harus mencari tempat untuk berteduh di kota. Kakak tertua ayah yang ditunjuk menjadi walinya mengurus pembuatan kartu identitas untuk mereka sebagai orang Cina sehingga keluarga tersebut dapat hidup dengan lumayan pada masa perang. Seluruh keluarga yang berpikir cara Indonesia percaya pada ramalan Jaya-baya bahwa setelah tiga tahun penjajah kuning itu akan menyingkir dan bangsa Indonesia akan merdeka. Namun anak emas nenekku ini terlalu cepat ditinggal ayahnya sehingga tokoh ayah ini diromantisirnya. Willem merasa sebagai orang Eropa tulen dengan paspor Belandanya. Saat itu ayahnya telah tiga tahun meninggal sedangkan ayahku sudah menginjak usia tujuh belas tahun dan bukan orang Cina, Indo, atau Belanda. Ia menyematkan peniti Cina di dadanya, tapi di tembok kamar tidurnya ia memasang foto ratu Belanda. Ia terjangkit rasa benci pada orang-orang Jepang. Selama bertahun-tahun ia masih saja menyesali hi-langnya dua belas jambangan Cina yang besar-besar yang hancur pada saat pemboman.

Apa lagi yang dilakukan nenek selama perang selain membaca Alkitab? Ia mencari uang dengan cara membuat kecap yang dikerjakannya di kebun bela-kang. Selama masa penjajahan Jepang, kedua anak perempuannya yang kembar bekerja sebagai pelayan di sebuah tempat hiburan yang sering dikunjungi serdadu Jepang. Uang hasil jerih payahnya mereka bawa pulang. Ketika ayahku protes, ibunya berkata, ‘Diam kau, kita kan harus makan.’ Namun, ketika ayah-ku yang saat itu berumur dua puluh tahun membawa upah pertamanya ke ru-mah dan menyerahkannya pada ibunya, nenek berkata, ‘Aku tak mau uang yang berlumuran darah itu.’

Kejadian itu berulang kali diceritakan ibuku padaku. Ibu adalah kawan pena ayah dari Belanda. Ibu dikenalkan pada ayah oleh seorang serdadu Belanda yang berasal dari Belanda Selatan.

Ketika Jepang menyerah, tentara Belanda mencoba menguasai Hindia Belanda kembali dengan cara yang disebut aksi polisionil. Tapi orang Indonesia tidak menghendaki perwalian lagi dan kemudian mengangkat senjata sehingga keadaan Hindia Belanda menjadi kacau. Ayahku berpihak pada Belanda karena almarhum ayahnya yang tak sah itu adalah orang Belanda. Ayah kemudian bergabung dengan aksi polisionil pertama, namun ia mengalami kecelakaan menabrak ranjau darat sehingga selama aksi polisionil kedua ayah terpaksa tinggal di asrama.

Cerita yang akan kukisahkan ini aku temukan dalam memoiresnya yang pernah ditulis ayah untuk memenuhi permintaanku. Suatu ketika ia mendapatkan cuti dan pulang ke rumah. Menurut tulisannya ini, ia masih mengenakan seragam dan juga membawa senjata. Aku tak tahu apakah hal ini diperkenankan karena biasanya pada saat seseorang mendapatkan cuti, ia harus meninggalkan senjatanya di asrama. Sesampai di rumah ia mendengar suara bayi berceloteh. Ia me-nuju kamar di belakang dan melihat seorang bayi dengan raut muka orang Jepang. Ia mengambil senjatanya, mengisinya dengan peluru, dan mengacung-kan larasnya pada anak itu. Melihat hal ini pembantu-pembantu yang ada di situ berteriak-teriak minta ampun. Ayah kemudian pergi dari sana dengan perasaan terluka karena salah satu saudara kandungnya mendapatkan anak dari seorang tentara Jepang, dari seorang musuhnya.

Ke mana ia akan pergi, di mana ia berada? Apakah ia balik ke asrama? Menurut tulisannya ia kemudian sering berkeliaran di kota tempat di mana kelompok yang berlawanan saling bertempur. Namun cerita mengenai bagaimana pada saat-saat yang kacau itu, pacar saudara kandungnya, si serdadu Jepang itu dibu-nuh di kota pada suatu malam, tidak pernah ada dalam tulisannya.

Di kemudian hari di Belanda, bila kami sedang duduk-duduk mengitari per-apian dan mendengarkan kisah-kisah perang yang setiap malam diceritakannya, ia menjuluki saudara perempuannya itu sebagai seorang pengkhianat, wanita penghibur, pelacurnya orang Jepang. Sebagai seorang anak kecil aku berusaha untuk mengerti kata-kata yang keluar dari mulutnya itu, namun sia-sia. Beberapa tahun kemudian aku mulai menyurati tanteku itu, Tante Lea. Aku menjadi salah satu dari generasi Indo kedua yang melakukan perjalanan ke Indonesia untuk mencari asal-usulnya. Selain itu bukankah seorang penulis membutuhkan bahan untuk tulisannya, membutuhkan berbagai suara mengenai hal yang sama yang dilihat dari berbagai perspektif yang berbeda.

Aku tinggal selama lima minggu di rumah Tante Lea. Tante Lea adalah anak yang paling dekat dengan nenek, karena nenek tinggal di rumah Tante Lea sampai akhir hayatnya. Tante Lea tinggal di sebuah rumah baru yang terletak di sebuah gang di bilangan Stasiun Gubeng, suatu wilayah di Surabaya. Tante Lea tinggal dengan anak perempuannya yang keturunan Jepang bernama Josta. Nama itu diambil dari nama sang ayah, si serdadu Jepang bernama Josida.

Josta memperoleh tiga orang anak dari seorang laki-laki Cina, seorang pembo-rong yang ulet yang mampir beberapa kali seminggu dan sekali-sekali meng-inap. Istri pertama laki-laki ini tinggal di kota. Seperti nenek kami, Josta juga menjadi wanita piaraan, walaupun dengan variasi yang berbeda. Laki-laki ini adalah seorang Cina beragama Budha.

Anak laki-laki Josta, Joshi, punya satu angan-angan, yaitu mengunjungi Jepang, tanah kelahiran kakek yang tak pernah dikenalnya. Wanita yang menjadi idamannya adalah wanita Jepang. Di dinding kamarnya tergantung kalender bergambar foto model Jepang. Anak perempuan Josta, Linda, lebih tertarik pada orang Cina dan punya kekasih, seorang Cina. Setiap malam, pulang bekerja, Linda dengan tak henti-hentinya menceritakan apa saja yang dialaminya, apa sa-ja yang akan dilakukannya, apa saja yang disukainya dan yang tidak disukainya. Kata orang, ia mirip nenekku Nio. Tapi Linda banyak tertawa, sedangkan menurut ayah, ibunya jarang tertawa. Anak bungsu Josta, adalah seorang gadis bernama Ervina.

Kalau nama anak-anak Josta diurut berdasarkan umur, maka akan terasa perbe-daan di antara nama-nama itu. Joshi, Linda, dan Ervina. Nama yang pertama masih berbau nama kakek Jepang yang tidak dikenalnya. Nama kedua adalah nama yang bagus untuk seorang gadis Cina modern, sedangkan nama yang ketiga berbau Indonesia.

Di beranda rumah tanteku, aku merasa sangat nyaman. Berbeda dengan bila aku sedang berada di jalan-jalan di Indonesia. Mungkin tempat ini mengingat-kan aku pada cerita-cerita ayah tentang Hindia Belanda. Aku selalu melalui ma-lam-malam hari di beranda sambil mengamati cicak-cicak selama berjam-jam. Hiasan kadal yang merayap di tembok ini di tahun-tahun enam puluhan meng-hiasi dinding rumah orang-orang Indo di Belanda. Di rumah-rumah orang Indo yang sudah tua barangkali hiasan ini masih dipajang sampai sekarang.

Tempat di mana tanteku merasa nyaman adalah dapur. Di sini setiap hari ia mendengarkan cerita-cerita wayang sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Malam hari ia pergi menemaniku di beranda, berdiri di belakang kursiku dan menyapaku dengan pijatan jari-jarinya di pundak dan leherku yang kaku. Aku tak sabar mendengarkan apa-apa yang akan diceritakannya.

Aku harus bersabar menunggu cerita mengenai Josida, sang serdadu Jepang yang sangat dibenci oleh ayahku, yang baru bisa keluar dari mulut Tante Lea berminggu-minggu kemudian. Cerita itu aku dengar dalam dua versi. Mula-mula versi Josta, baru kemudian versi Tante Lea.

Sambil membersihkan lantai, Josta menceritakan bagaimana ayah yang tak dikenalnya itu pada suatu malam pergi untuk membeli rokok. Saat itu tentara Jepang sudah menyerah dan mereka menunggu untuk dipulangkan ke tanah airnya. Masa itu dikenal sebagai masa Bersiap, satu masa di mana sebagian serdadu Jepang bahu membahu dengan orang Indonesia melawan Belanda. Seba-gian lain bersembunyi di bangunan-bangunan yang terletak di pelabuhan atau di rumah-rumah yang mereka sita sewaktu mereka menduduki Hindia Belanda. Ada juga yang bersembunyi di rumah pacar-pacarnya seperti Josida.

Kebanyakan orang Indonesia tidak melakukan apa-apa terhadap tentara Jepang, tapi ada orang yang putus asa yang berkeliaran, antara lain orang-orang Indo yang masih punya perhitungan dengan bekas musuhnya, seperti ayahku. Hanya orang Jepang yang gila yang berani jalan sendirian malam-malam. Itulah sebabnya mengapa Josida tidak jalan sendirian, tapi bersama dengan keponakannya yang juga seorang tentara. Tante Lea menunggunya, tapi tidak melihatnya pu-lang. Ia mencarinya, tapi kemudian mendengar kabar bahwa ada mayat di-temukan di pasar. Wajahnya rusak. Saat diidentifikasi mayat itu hampir tak bisa dikenali. Ternyata itu adalah keponakan Josida.

Lalu bagaimana dengan Josida?

Ya, tentu saja ia kabur. Dia tak berani pulang lagi. Mama masih berusaha mencarinya sampai setelah perang lama usai. Bahkan sampai ke Tokio, lewat perantara. Kamu tahu kan Tokio jauh sekali. Tapi mama tidak pernah mendengar kabar lagi. Kasihan ya, mama.

Beberapa hari kemudian, di beranda depan, sebelum aku pulang ke Belanda, Tante Lea duduk menemaniku. Ia tidak menyapaku dengan pijatannya. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Sejenak ia memandang ke depan tanpa bilang apa-apa. Pandangannya ke depan, melewati gang, menatap jalanan yang gelap dan sunyi. Tangannya yang keriput diletakkan di pangkuannya. Ia bercerita bahwa pada suatu malam Josida pergi membeli rokok. Keadaan di luar sangat berbahaya, sehingga ia pergi bersama keponakannya. Itu adalah saat yang terakhir kalinya ia melihat Josida yang dicintainya, karena keduanya tak pernah kembali lagi. Keduanya menemui ajal di pasar. Wajah mereka dirusak dengan pisau.

Wajah keduanya? tanyaku.

Ya, wajah keduanya. Setelah Josida pergi, tantemu ini tidak pernah lagi menikah. Tapi ada Josta, dan Josida menitis dalam dirinya, sehingga aku merasa ia tetap berada di sisiku. Linda mirip nenekmu. Kamu tahu, ia ingin sekali pergi ke Cina. Dan Joshi, mirip kakeknya. Karena itu ia memimpikan gadis Jepang dan negeri Jepang.

Tapi Josta menceritakan padaku bahwa hanya keponakan ayahnya yang menemui ajalnya.

Memang, jawab tante, aku tidak menceritakan semuanya. Kasihan dia. Tapi Josta sedang tidur sekarang, jadi aku dapat menceritakan hal ini padamu. Sese-orang bisa punya suami yang tidak selalu berada di sisinya, atau punya kekasih yang meninggalkannya. Tapi siapa yang mau punya ayah tanpa wajah.

* * *

Judul Asli: Zonder gezicht
Vertrouwd en vreemd. Ontmoetingen tussen Nederland, Indië en Indonesië
Serie Tipje van de Sluier, nr 12
Redactie: Esther Captain, Marieke Hellevoort & Marian van der Klein
Uitgeverij Verloren, Hilversum, 2000
Copyright © 2000, Alfred Birney

Terjemahan oleh Ingrid Bernard
Tiga Puluh Tahun Studi Belanda di Indonesia / Dertig Jaar Studie Nederlands in Indonesië
Editor: Yati Suhardi, Munif Yusuf, Kees Groeneboer.
Fakultas Sastra – Universitas Indonesia
Depok, 2001
Percetakan: Desa Putera Jakarta
ISBN: 979-8184-60-2
Hak cipta © 2001 pada Alfred Birney